Archive Page 2

senjaBicara usia bagi sebagian orang adalah satu hal yang menyedihkan, mereka sedih karena semakin besar angka yang disandang, semakin besar pula tanggung jawab yang dipikul. Kadang mereka berpikir sudah berbuat  apa selama hidupnya, berartikah bagi orang lain? apakah keberadaannya memberikan pengaruh yang signifikan bagi keberlangsungan hidup orang lain? Atau justru menambah deretan angka-angka noise yang harus dilenyapkan dan disingkirkan supaya model hidup ini jadi mulus?

21 tahun sudah dirimu sudah menapaki bumi, sudahkah tiap harimu dihiasi dengan senandung merdu cinta kasih Tuhanmu? Kulihat di tiap harimu, selalu saja ada yang kau berikan untuk bumimu. Semangatmu mengawali pagi sungguh menggerakkan uratku untuk melakukan hal yang sama. Bagi orang lain dirimu hanya teman yang selalu ada ketika mereka butuhkan, bagiku tidak kawan, dirimu ini bukan hanya selalu ada ketika kubutuhkan, namun sudah menjadi satu kebutuhanku untuk melengkapi pagiku. Huaahh…lebay ini postinganku. Tapi itulah adanya, hampir 3 tahun sudah persahabatan kita, dan kumau kau tetap jadi sahabat seperti ini.

Happy Milad, Senja.


tumpukan-buku“…..Half to forget the wandering and the pain, Half to remember days that have gone by, And dream and dream that I am home again…” – James Elroy Flecker -

Sebelumnya maaf, akhir-akhir ini postingan saya tak bermutu sama sekali, tak ada nilai lebihnya dan kebanyakan hanya mengumbar pengalaman pribadi saya. Salah satu penyebabnya adalah semakin sedikitnya buku yang saya baca, dulu mungkin sering dapat supply oleh beberapa kawan, namun sekarang tidak lagi, koleksi e-book pun sudah habis saya baca, dan buku yang terakhir saya baca adalah To Kill A Mockingbird karya Herper Lee.

Oleh sebab minimnya buku baru saya sekarang, pilihan lain adalah membaca ulang artikel juga catatan harian saya yang saya simpan dalam satu folder khusus, catatansaya.wordpress.com. Isinya semua tulisan yang di-upload di blog maupun yang sengaja tidak saya upload, ada juga yang sengaja saya password, kalau yang itu jelas konsumsi pribadi. Nah, membaca ulang ternyata banyak manfaatnya, serasa ingatan ini kembali ke masa lalu, saat kejadian tersebut berlangsung. Biasanya saya lantas senyum-senyum sendiri, entah karena gaya menulis saya waktu itu masih menggunakan kata ganti Aku, pemakaian bahasa yang terlalu pasaran, ataupun kalimat-kalimat yang aneh yang bikin saya dubrak. Namun yang paling saya suka adalah kumpulan tulisan di folder ber-password. Mau tau isinya? heahahaha..sebenarnya kurang penting, tapi lumayan untuk mengenang masa lalu. Semua kisah dari tiap perjalanan yang saya anggap berharga juga bermakna. Membacanya kembali sering membuat saya malu pada diri sendiri, tapi tak jarang pula saya berpikir, kok bisa ya saya jadi  kayak gitu?

Pernah suatu ketika saya terbelokkan arah, sebut saja lagi futur. Dari kejadian itu saya tulis semua yang ada di kepala saya. Mulai dari perasaan bahagia karena benar ternyata jatuh cinta berjuta rasanya, perasaan sedih karena jatuh cinta, juga menyesal karena telah jatuh cinta.  Nah, kalau dibaca ulang sekarang, rasanya konyol, selain itu dalam catatan saya itu juga menyebutkan objek yang saya maksud, Duh geli jadinya. Memang benar kata Alm.Pram, jatuh cinta itu serasa menjadi sebodoh-bodohnya orang tolol.

Lain cinta ada catatan lain yang paling sering saya baca ulang, yaitu catatan saya tentang pandangan saya terhadap sobat-sobat saya. Itulah saya, suka menilai sendiri orang-orang yang menurut saya berarti, dan pernah mengisi sehari-hari saya meskipun bukan keluarga. Mereka yang telah saya review pribadinya diantaranya adalah 4 sobat saya, Putriana Marthalita (Ria), Irma Fatmawati (Irme) dan Wenny Rakhmania (Wenny). Ada Pradnya Rahmani S (Anya), Aan Nurochman, Madda Elliyana Moenandar (Mbak Elly), Kabinet BEM 0809, dan beberapa lagi yang tidak disebut jangan marah. Bukan bermaksud meng-eksploitasi mereka, hanya saja selalu ada catatan unik dari mereka. Sesuatu yang tidak ada dalam diri saya, yang beda dan beberapa yang pantas saya tiru karena baiknya.

Semoga setelah membaca postingan ini Anda akan terenyuh dan bermaksud meminjami saya buku, kalau bisa sih bukan novel terjemahan yang menye-menye ataupun teenlit-teenlit kurang penting itu. Mau saya bukunya Pramoedya, GM, Ayu Utami, dll, atau katalog pariwisata dan sejarah Indonesia. Luar negeri mau saya novel-novel pemenang Pulitzer seperti Ernest Miller Hemingway, Marjorie Kinnan Rawlings, Nelle Harper Lee,dll, National Geographic Traveller juga mau, Rolling Stone yo Ayo, tapi kalau Chic, Cosmopolitan, High End Teen, dll itu maaf deh, saya tidak tertarik. Hehehe… sudah kere banyak maunya, namanya juga usaha. Yang penting Yakin Usaha Sampai sajalah…hehehehe


parkourPernah menonton film Yamakasi buatan Perancis itu? Film yang mengangkat tema olahraga parkour, film yang pasti membuat Anda tercengang dengan tingkah polah sekumpulan laki-laki yang selalu mengagetkan warga apartemen dengan meloncat-merayap di dinding setiap pagi hanya untuk menyaksikan Sunrise di Kota Paris.

Parkour berasal dari kata parcours du combatant (Perancis) yang berarti pelatihan halang rintang untuk sesi militer, kegiatan ini diadaptasi sedemikian rupa dan dipopulerkan oleh David Belle, seorang warga Perancis pada tahun 1987. Awal mula olahraga ini adalah rasa isengnya David saat jenuh ketika pulang sekolah tidak ada kegiatan yang dapat memacu adrenalinnya, atas dasar itulah setiap pulang sekolah David mencoba untuk bereksperimen dengan meloncati pagar dengan gaya koprol, mendaki yang kesemuanya dia padukan antara gerakan bela diri dan gaya atletik.

Tahukah Anda ternyata ITS punya komunitas parkour? Yap, komunitas yang terhitung baru, meskipun belum resmi menjadi UKM namun sudah punya anggota yang tak bisa dibilang sedikit.  Komunitas yang digawangi oleh Duwes, Mahasiswa Desain Produk 2006 ini rutin latihan setiap Minggu pagi dan Rabu malam, biasanya mereka mengambil tempat di M-Web, terkadang di Plasa Jurusan Teknik Fisika. Namun bisa saja suatu saat mereka akan kita jumpai di tempat-tempat lain, yang representatif bagi mereka untuk meloncat dan bereksperimen dengan gaya baru lainnya.

Bermain halang rintang dengan improvisasi gaya sendiri, melatih kelenturan dan tentu saja bergelut dengan adrenalin, para traceur atau pemain parkour beranggapan bahwa hal tersebut sama hanya dengan menjalankan track kehidupan, terdapat banyak rintangan dan masalah dalam hidup. Dengan memakai prinsip Parkour, mereka berusaha melewati rintangan tersebut dengan indah dan penuh control. Belajar memecahkan masalah yang dihadapi dengan efektif dan efisien.

Jadi ,dengan filosofi yang ada, para traceur lebih menikmati gaya mereka. Tak asal indah dipandang mata, namun juga sarat makna. Percuma jika indah tak bermakna, yang ada hanya badan yang sakit semua. Jangan asal loncat, meloncatlah dengan gaya, dan meloncatlah untuk masa depan!


Bandung memang gak ada matinya untuk urusan musik indie. Satu lagi produk daerah mereka, The Panas Dalam. Awalnya band ini direkomendasikan oleh salah seorang teman saya, Yusuf Umar Ibnu Syihab. Dia bilang The Panas Dalam itu liriknya unik, mendobrak arus. Karena penasaran, saya pun browsing-browsing dan download beberapa lagunya. Hampir satu album lengkap, album gendeng yang judulnya Argumentum in Absurdum. Lah, iku artine opo Cak?? Saya cari di kamus inggris sampai yunani gak nemu-nemu.

Saya ulas beberapa lagu yang mereka punya, kasarannya saja.

“Bergabung dengan kami Panas Dalam, kaum musik kurang ajar…rasaiiinnn”, Nah itu intronya album ini.

Lagu yang pertama kali saya dengar dari band ini judulnya adalah  Phedofilia, ceritanya tentang cinta yang kandas karena usia. Si laki yang sudah S2 dan ceweknya yang masih TK, WTH! Track selanjutnya makin gendeng, judulnya Rintihan Kuntilanak. Kalau yang ini mungkin sudah familiar di telinga Anda, bahkan beberapa dari Anda sudah pernah nonton video klipnya.

Yang rada ekstrim, dan agak tabu buat saya yaitu Kelamin Uber Alles. Sumpah, lagunya jujur banget. Bilang mereka, siapapun kamu, bagaimanapun kamu, yang ngaku punya cinta murni, pasti ujung-ujungnya minta kelamin. Mencari orang yang terbaik, cantik tanpa kelamin itu percuma.

Nah, yang ngecrot dalem banget, lagu yang judulnya Koboy Kampus. Sindiran buat yang males-malesan kuliah, satu colekan buat para Mahasiswa abadi. Yang molornya sudah kebangetan. Coba dengar lagu satu ini, setidaknya akan sadar, diluar sana banyak yang menunggu kiprah kita sebagai para pemuda harapan bangsa (Loh, iku lak jeneng band nggacor pisan? ).

Lagu cita-citaku menggambarkan kesedihan seseorang karena menjadi lelaki. Postingan saya sebelumnya menceritakan betapa dulu saya terobsesi menjadi laki-laki. Nah dari lagu ini betapa gilanya ada juga laki-laki yang engga bersyukur jadi laki-laki. Obsesinya menjadi perempuan sebegitunya. Gendeng!

Lagu orang mabok, bisa dibilang seperti itu apa tidak ya?


Nih dia postingan ngelantur, dibikin sama Mahasiswa paling nganggur sejagad ITS. Terinspirasi dari mimpi sendiri.

Beberapa waktu lalu, saya bermimpi dikejar-kejar ular, nggak tanggung-tanggung, 3 ekor sekaligus. Saat itu saya sadar kalo saya sempat teriak-teriak (ngelindur rek). Untungnya waktu shubuh sebentar lagi tiba, jadi saya langsung bangun. Nah, habis sholat shubuh sama anak-anak rumah, saya langsung cerita kalau barusan mimpi jelek (sebagai catatan, saya fobia ular), Akan tetapi tanggapan anak-anak beda, mereka malah histeris bertubi-tubi. Katanya sebentar lagi saya bakal dilamar orang, 3 sekaligus. Zing….. Dan gara-gara mulut si soulmate kamar saya, tersebarlah sudah gossip kalau saya sebentar lagi akan menyusul Mbak Fahmi, alias menikah. Gosip aneh, tapi tak apa, gossip adalah sebagian dari Do’a. Anggap saja itu do’a mereka untuk saya. Hehehe….

Saya heran, kenapa percakapan tentang pernikahan selalu memekarkan telinga dan mulut mereka. Entah di rumah (kos) maupun waktu LQ. Seakan-akan dengan menikah semuanya menjadi indah. Walloohua’lam sih, menurut mbak kos saya yang menikah muda, so far so good. Tapi kalau saya pribadi, hmm.. apa ya?? Belum sreg ah. Pertama karena belum nemu calon, loh? Bukan-bukan, karena mau lulus TA dulu. Ngomongin nikah itu sering bikin orang sok romantis ga karuan, capek banget ngadepin mereka. Belum lagi permintaan calon suami/istri yang almost perfect, yang bisa ini itu, punya ini itu. Yah sukur-sukur kalau ada semua, tapi masa iya kita ga sadar kalau sudah terlampau jauh mendikte Tuhan. Saya yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik, jauh lebih baik dari yang saya minta selama ini (Nah loh ketahuan, berarti selama ini sering doa-doa kaya gitu, hehehe…)

Jadi, yang sudah menafsirkan mimpi saya, terima kasih atas do’anya. Dan kalaupun ada yang bener-bener mau melamar saya , Mas kawinnya minimal 1 Unit Toyota Fortuner, gress dari dealer. Dasar…matreeeee…..


Dulu, sewaktu masih duduk di bangku MI (SD Islam) saya sering sekali mengeluh. Selalu berkeluh kenapa ditakdirkan menjadi perempuan. Dari kecil kebanyakan teman-teman saya adalah laki-laki (sampai sekarang juga sih). Sewaktu kecil dulu, menurut saya laki-laki itu lebih bebas, bebas untuk pergi bermain, bebas berantem, bebas sebebas-bebasnya menjadi manusia. Mereka itu kuat, berani, cerdas dan culas. Mampu bejuang untuk dirinya dan orang-orang sekelilingnya, mereka punya pertahanan yang hebat. Dan saya selalu iri dengan semua yang mereka punya. Sahabat saya semasa MI juga laki-laki, meskipun awalnya dia suka sama saya, tapi lama-lama dia yang jadi sobat setia saya. Ketika KMI (setingkat SMP) sahabat saya memang perempuan, tapi tomboy setengah mati. SMA, balik lagi punya sobat laki. Entah kenapa, memahami jalan pikiran mereka itu lebih mudah daripada perempuan punya. Hidup sobat-sobatku itu simple, apa adanya. Obsesi saya meniru gaya laki-laki memang tidak terlalu terlihat, sebab dari kecil terbiasa mengenakan rok, celana hanya punya beberapa. Bukan fisiknya yang saya tiru, tapi setiap apa yang mereka pikirkan, perbuat dan ucapkan. Seringkali saya membanding-bandingkan diri sendiri dengan sesosok laki-laki, siapapun yang menurut saya spesial dan unik.

Semoga R.A Kartini tidak kecewa punya penerus seperti saya. Apa adanya saya.


a-186

Awalnya saya sempat ragu untuk datang di acara Pentas Seni pada puncak perayaan Nyepi Festival yang diselenggarakan oleh anak-anak TPKH ITS ini. Keraguan saya jelas karena temanya saja sudah Nyepi, hari besar agama Hindu, sempat takut kalau didalamnya terlalu banyak unsur Hindunya. Keraguan kedua gara-gara timing-nya kurang tepat. Pas long weekend, liburan PEMILU sekaligus Paskah. Saatnya pulang kampung. Keraguan ketiga karena menonton acara itu harus pakai tiket, tiketnya pun ngga gratis alias bayar. 35 Ribu untuk kelas Bisnis, 50 Ribu kelas eksekutif, 70 Ribu untuk Kelas VIP dan 85 Ribu untuk VVIP. Namun keraguan itu musnah seketika karena ingat siapa yang bakal saya tonton nanti. Dan bisa ditebak kan akhirnya saya pilih mana? Ya kelas Mahasiswa saja, yang paling murah, yang duduknya paling belakang. Waktu dapat tiket saya sedikit meringis, karena akhirnya yang berangkat hanya 2 orang, saya sendiri dan juga Mas Johan Asa, WaPemRed ITSOnline. Ini gara-gara Mas Ayos dan Mbak Winda tidak jadi pesan, sedangkan Anya yang biasanya jadi sohib jalan juga kurang sreg untuk kesana. Yah, tak apalah, suatu kehormatan tersendiri bisa nonton pentas seni etnik berdua dengan pak Jo , hueheheee…….Sadar-sadar!!!!! Tapi semalam sebelum pertunjukan, si Anya akhirnya kasih kabar kalau dia ikut. Yeah, akhirnya…. Jadilah bertiga. Kalau laki-laki dan perempuan bukan mahrom pergi berdua, itu diantaranya adalah setan. Nyak, setannya jangan-jangan kamu..hahahaha….

a-025

Sesampainya Saya dan Anya di Balai Pemuda, Mas Jo belum datang. Mau SMS, nomor HP nya saja hilang, akhirnya saya minta nomor Mas Jo ke Beberapa anak ITS Online. Setelah dihubungi, walah dia masih dirumah. Akhirnya saya dan Anya masuk duluan. Dan benar, kami mendapatkan bangku di deretan belakang. Kelas Bisnis bermuka Ekonomi. Kacau-kacau…

Penampilan pembukanya waktu itu adalah tari Kecak, disusul beberapa penampilan dari anak-anak TPKH, sementara belum terasa Bali-nya. Nah, giliran Doorprize. Ini mungkin pertama dalam hidup saya dapat Doorprize, semenit sebelumnya saya bilang ke Anya,”Seumur-umur aku ni gag pernah dapet yang namanya doorprize gitu..”. Eh tapi akhirnya nomor saya disebut, 000153. Ya naiklah saya ke pentas, sampai di pentas ternyata yang punya nomor 000153 ada dua orang, dia tiket VIP. Setelah ngobrol pajang lebar ,saya baru sadar kalau dia itu Bayu, teman saya anak Sipil’06. WWaalaaahhh…..mbulet ae.

Mas Jo belum juga datang, sempat saya punya niatan kalau dia tak jadi datang, doorprize payung itu buat mukul dia, labrak langsung ke lantai 6. 35 Ribu loh! Bisa buat makan 3 hari itu.Tapi Alhamdulillah sekitar pukul 8 dia datang. Yah lengkap kami sudah bertiga. Time to Balinese show.


a-122

Malam itu banyak penampilan dari anak-anak TPKH. Mulai dari Etniquecoustic, dimana gamelan berpadu dengan gitar listrik. Sebenarnya bagus, hanya saja gamelannya terlalu mendominasi sehingga suara gitarnya kurang terdengar. Selanjutnya ada pertunjukan tari daerah, mulai Ronggeng sampai Remo. Waktu penampilan Remo banyak penonton yang bingung, maklum kebanyakan mereka adalah orang Bali, merasa tak punya kebudayaan itu. Saya sendiri awalnya juga bingung, tapi jika dilihat dari gerak kakinya, itu Remo. Penampilan selanjutnya adalah sendratari, menampilkan lakon Subali dan Sugriwa. Dua orang manusia bersaudara yang bermuka kera. Jadi ceritanya adalah Dewi Tara, istri Subali mengira Subali telah tewas di medan perang, dalam tradisinya, jika sang kakak telah meninggal maka sang Adik yang menggantikan posisinya sebagai suami. Jadilah Sugriwa memperistri Dewi Tara. Akan tetapi, Subali itu ternyata belum tewas. Dan dia marah karena Sugriwa merebut istrinya. Subali menantang Sugriwa dalam satu perang. Sugriwa meminta bantuan Rama dan Laksmana. Rama yang saat itu juga dalam pencarian Dewi Sita, akhirnya mau membantu Sugriwa asal dia juga membantu dalam pencarian Dewi Sita. Rama yang diwakili oleh patihnya, Anoman, berhasil memenangkan pertempuran melawan Subali. Dan akhirnya Subali benar-benar tewas. Nah, dalam katalog yang disediakan panitia dikatakan hikmah yang dapat diambil adalah, Kita sebagai manusia jangan terburu-buru mengambil keputusan. Bisa merugikan diri sendiri. Tepat dibelakang kami adalah sekumpulan anaka-anak penggemar Dedek, pemeran Dewi Tara. Dari awal mulut mereka itu selalu mengeluarkan celotehan-celotehan yang bikin kami semua terpingkal-pingkal. Termasuk celotehan ini, “ Kesimpulane iku loh ga mbois, moso ket mau seh maen kethek tapi kok pelajaran gawe menungso ”. Yayayaa…baru sadar saya…

Dan penampilan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Wayan Balawan….

a-121

Wah sepertinya saya tidak terlalu bisa menggambarkan bagaimana hebatnya Wayan Balawan main. Semuanya terlalu indah, hebat. Perpaduan antara gitar dua kepala khas Balawan dengan gamelan Bali. Bagaimana bisa dua tangan itu memainkan 3 gitar sekaligus, dengan racikan jazz culture yang surreal. Balawan sendiri bilang, tak semua orang suka dengan music yang dibawakannya, karena musiknya itu abstrak, absurd, susah dipahami, tapi indah. Balawan dengan grupnya membawakan beberapa lagu, diantaranya ada yang saya belum kenal. Tak masalah, semuanya asik. Dia juga bilang dalam waktu dekat ini akan mengeluarkan album baru. Wahhh… saya mah nunggu mp3-nya saja. Biarlah Mas Jo yang hunting, saya tinggal meng-copy. HHHmmmhh….budaya apa ini main copy karya orang, produk dalam negeri lagi. Jangan ditiru kawans!

10 lagu mungkin lebih, mungkin kurang. Tak tahu tepatnya berapa, Saya dan mas Jo benar-benar menikmati sajian itu, sedang Anya katanya biasa saja, yoweslah sak karepmu.

Puassss..Keren gila.. Tak masalah 35 Ribu, sudah sangat impas dengan apa yang kami peroleh. Biasanya buat nonton balawan dengan performa seperti itu harus rela mengeluarkan kocek sampai ratusan ribu. Gitaris skala internasional. Juga akhirnya kami bertiga nyasak-nyasak ke bangku depan, yang seharga 50 Ribu itu.Lengkap sudah boi kepuasan kami. Wah tambah asik kalau yang main itu trisum antara Balawan, Tohpati dan Dewa Bujana. Tiketnya berapa tuh…hehehehee..

Yah, terima kasih untuk anak-anak TPKH. Lain kali boleh juga Dewa Bujana, kolaborasi dengan Shakila, loh maunya……

* Buat Anya: Makasih….gada kamu diriku bakal MATI GAYA

* Mas Jo : Kapan-kapan hunting konser lagi …..heheheeh


 

Kesibukan baru saya akhir-akhir ini bertambah satu, yaitu analisis data . Bukan karena iming-iming duit atau royalti apapun, padahal sekali penggarapan bisa sampai 200 ribu untuk analisa data yang biasa, apalagi kalau TA, bisa lebih banyak. Namun alasan saya menerima analisis data ini lebih ke menguji seberapa jauh kemampuan saya menganalisis data-data mentah, dengan berbagai permasalahan yang kompleks dan sama sekali baru, misalnya membuat permodelan penjadwalan kapal di Pelabuhan, punya mahasiswa Teknik Perkapalan yang mengambil bidang transportasi.

THE CHALLENGE HAS COME!  Continue reading ‘Terima Analisis Data ( Promosi sedikit….)’


laconcert4


Begini kawan, masalah ini sejak lama saya bingungkan. Satu sisi saya gemar bertravelling, keliling-keliling dan menjelajah alam, tujuan saya bukan dakwah, syiar Islam dsb, tujuan saya hanyalah menikmati indahnya kreasi, ciptaan Tuhan, hikmahnya dari travelling itu sendiri adalah saya semakin dekat dengan Tuhan, rasa syukur terhadap-Nya semakin besar juga. Namun disisi lain, saya harus mengorbankan Sholat pada waktunya, maksudnya mau tidak mau saya harus men-Jama’ Sholat, dan yang paling sering saya korbankan adalah Dzuhur dan Ashar. Bukannya tidak mau memanfaatkan keringanan yang diberikan agama, hanya saja saya merasa ada yang salah dalam penafsiran sholat jama’ dan qoshor ini. Beberapa kali jelajah alam, satu – dua kawan berbeda pendapat dengan saya. Berangkat dari beberapa pengalaman saya pun kembali membongkar kitab-kitab lama, mencari-cari kondisi seperti apa yang diperkenankan untuk keringanan tersebut.

Sholat Dalam Bepergian

( Merujuk pada Kitab Fiqih Jilid I karya Ust. KH. Imam Zarkasyi, Trimurti Gontor Press ) Continue reading ‘Traveller dan Kebiasaan Men- Jama’- Qoshor Sholat Fardlu’