Suku Baduy

04Jun09

Seperti yang pernah saya janjikan dulu, saya akan me-review tentang suku Baduy. Jujur saja, referensi yang saya peroleh tidak selengkap seperti suku Bugis. Kebanyakan ini saya dapat dari internet, antara lain Wikipedia dan milis Indobackpacker. Kesulitan yang saya rasakan waktu membuat resume suku ini adalah menyamakan persepsi dari para peresensi. Maklum, kali ini bukan murni resensi buku seperti yang sudah-sudah. Hasilnya, silahkan dibaca . Semoga bermanfaat!

Baduy : The Hidden Tribe

Indonesia termasuk negeri kaya dan subur. Mengapa tidak subur? Hampir seluruh pulau di negara yang curah hujan cukup tinggi ini memiliki hasil panen yang cukup menjanjikan. Ditambah lagi sumber daya alamnya yang wah dan wuih. Tapi, jangan langsung berbangga dulu dengan segala apa yang dimiliki. Ternyata masih banyak hal-hal lain yang perlu ditilik. Oh ya? Rupanya, Negara ini masih terdapat beberapa perkampungan pedalaman primitif di setiap pulau. Seperti di Sumatera, salah satunya adalah suku terasing di Propinsi
Jambi. Yaitu suku Kubu, yang konon tempat tinggal mereka berpindah-pindah
atau nomaden. Ada lagi, yaitu di Kabupaten Rangkas Bitung – Propinsi Banten.
Yakni suku Baduy.

Banyak referensi mengenai asal muasal “Baduy”. Berbagai macam sumbernya. Ada
yang menyebut “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar
kepada kelompok masyarakat tersebut. Yaitu yang berawal dari sebutan para
peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan Badawi atau
Bedouin Arab yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Ada yang mengatakan bahwa asal-usul “Baduy” adalah mereka keturunan dari
Batara Cikal, Salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal
usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang
pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga
Baduy mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni
dunia. Mereka juga beranggapan bahwa suku Baduy merupakan peradaban
masyarakat yang pertama kali ada di dunia Kemungkinan lain juga mengatakan bahwa “Baduy” adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Pendapat lainnya ada yang membuktikan bahwa orang Baduy adalah manusia tertua setidaknya di Pulau Jawa, berdasarkan  bukti-bukti prasejarah dan
sejarah, punden berundak Lebak Sibedug di Gunung Halimun 3 km lebih dari
Cibeo berusia 2500 SM masa neolitik, memiliki kesamaan simetris dengan
peninggalan yang sama  dengan piramida di Mesir dan Kuil Mancu Pichu di Peru
ribuan tahun silam. Banyak versi tentang asal usul masyarakat Baduy, diantaranya C.L. Blume ketika melakukan ekspedisi di tahun 1882. Beliau menyebutkan bahwa komunitas
Baduy berasal dari Kerajaan Sunda Kuno, yaitu Padjajaran. Sedangkan Van
Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset pada tahun 1928
menyangkat teori yang diutarakan oleh C.L. Blume. Menurutnya masyarakat
Baduy adalah penduduk asli daerah tersebut yang memiliki daya tolak kuat
terhadap pengaruh luar. Sementara mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai *urang
Kanekes*atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau
sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti *Urang Cibeo* (Garna, 1993).

Baduy yang berlokasi di desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten
Rangkasbitung Banten terdiri dari dua bagian besa perkampungan, diantaranya
Perkampungan Baduy Luar dan Baduy Dalam (Kepuunan Baduy). Kampung Badu Dalam
lebih sedikit dibandingkan perkampungan Baduy Luar. Baduy Dalam (Kepuunan
Baduy Dalam) terdiri dari tiga kampung, yakni Cibeo, Cikeusik, dan Cikeurta
Warna. Daerah yang berluas 138 ha, terdiri atas 117 kk yang menempati 99 rumah yang
dinamakan Culah Nyanda atau rumah panggung, sedangkan rumah kokolot atau
duku dinamakan Dangka, yang menghadap keselatan. Masyarakat suku Baduy yang
berpenduduk kurang lebih 10 ribu jiwa ini tinggal di wilayah yang
berbukit-bukit, dan berhutan-hutan, dengan memilki lembah yang curam sedang,
sampai curam sekali. Berdasarkan hasil pengukuran langsung di lapangan wilayah-wilayah pemukiman baduy rata-rata terletak pada ketinggian 250 m diatas permukaan laut, dengan
wilayah pemukiman di daerah yang cukup rendah 150 m diatas permukaan air
laut dan pemukiman yang cukuop tinggi pada ketinggian 400 m diatas
permukaaan laut. Wilayah Baduy itu berdasarkan lokasi geografinya terletak pada 60 27′ 27″ – 60 30′ LU dan 1080 3′ 9″ – 1060 4′ 55″ BT. wilayahnya berbukit – bukit
dengan rata–rata terlelak pada ketinggian 250 m diatas permukaan laut.

Berikut adalah beberapa fakta tentang Baduy, diantaranya:

  1. Kampung Kepuunan Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun (baca: Pu’un). Puun setingkat dengan Presiden Republik Indonesia.
  2. Tugas dan tanggung jawab Puun adalah memimpin kampung Baduy,
    melestarikan dan mempertahankan adat istiadat Kepuunan Baduy dari pengaruh
    luar.
  3. Setiap kampung di Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun. Ada tiga
    kampung di Baduy Dalam.
  4. Batas area masuk ke pekarangan rumah Puun pun diberi tanda. Sehingga
    tak satu orangpun yang bisa melintas ke dalam pekarangan rumah Puun baik
    orang luar maupun orang Baduy sendiri. Kecuali ada kepentingan warga Baduy
    sendiri misalnya urusan perjodohan/dijodohkan dan juga pernikahan.
  5. Usia kepemimpinan Puun tidak ada batasnya, sepanjang dia mampu. Dan
    pergantian kepemimpian jatuh kepada garis keturunan Puun sebelumnya atau
    tetua-tetua (olot) yang ditunjuk di kampung tersebut.
  6. Setiap kampung memiliki seorang Lurah (Jaro) yang berada di bawah
    Puun.
  7. Hampir 100% kehidupan keseharian Baduy Dalam berada di ladang (huma)
    dengan bertani. Terkadang jarang pulang malam ke rumah.
  8. Tidak diperbolehkan para pengunjung mandi dengan menggunakan sabun,
    shampoo, pasta gigi dan juga membawa jenis deterjen lainnya. Dilarang!
  9. Aktivitas keseharian mereka adalah ke lading dan ke ladang.
    Bertani, bercocok tanam padi dan menanam buah-buahan.
  10. Hasil panen padi tidak untuk dijual. Namun disimpan di lumbung yang
    tingginya setengah meter dari permukaan tanah koko berdiri selama
    bertahun-tahun dan untuk kehidupan keturunan selanjutnya serta kebutuhan
    makan secukupnya.
  11. Uang tidak perlu bagi mereka. Apabila dibutuhkan, mereka akan menjual
    hasil buah-buahan seperti kelapa, minyak sayur buatan sendiri, buah lain,
    hasil kerajinan tangan seperti tenunan, tas, gantungan kunci, shawl dan
    gelang-gelang. Semuanya berasal dari bahan dari sekitar pemukiman mereka.
  12. Tanah tidak ada harganya. Karena seluruh tanah disekitar mereka adalah
    milik bersama. Jadi, siapa saja berhak atas seluruh tanah kosong yang belum
    diolah. Semakin banyak anak, semakin banyak tanah untuk keturunannya.
  13. Untuk urusan pacaran dilarang. Namun bila ada yang ingin menikah atau
    dinikahkan, maka jodoh ada di tangan orang tua dan diresmikan oleh Puun dan
    lalu dirayakan oleh seluruh warga. Tidak ada istilah menolak bila ingin
    dijodohkan.
  14. Keyakinan atau agama mereka adalah Sunda Wiwitan. Setiap warga percaya
    dan menuruti perintah Sang Puun dan tetua-tetua jaman dahulunya.
  15. Pakaian mereka hanya terdiri dari tiga macam dan dua warna (hitam dan
    putih). Ketiga macam tersebut adalah baju (jamang) terdiri dari dua warna;
    hitam dan putih, rok (samping) yang dililitkan kepinggang hingga setinggi di
    atas lutut (laki-laki) dan sebetis/selutut (perempuan) dan terdiri dari satu
    warna yaitu hitam, serta satu lagi kain di kepala (tlekung) yang dililitkan
    di kepala dan hanya warna putih.
  16. Setiap hari, golok (gobang) selalu diselempangkan di pinggang untuk
    kebutuhan sehari-hari ke ladang.
  17. Pengunjung tidak diperbolehkan menggunakan kamera di Baduy Dalam
    apalagi mengabadikan rumah, lingkungan mereka apalagi gambar diri mereka.
    Hal ini dilarang oleh peraturan adat istiadat mereka demi menjaga nama baik
    dan lestarinya adat mereka.
  18. Bila kita memberikan sesuatu kepada mereka misalnya baju, disarankan
    lebih baik tidak dan jangan. Karena mereka tidak akan menggunakan oleh
    karena peraturan yang sudah mengikat. Bila ingin memberikan sesuatu
    peralatan dapur, sebaiknya diperhitungkan dulu, barang seperti apa yang akan
    diberikan.
  19. Bila Anda ingin berkunjung dan meninggalkan alamat, jangan salah..
    mereka akan datang berkunjung balik ke rumah Anda. Mereka datang dengan
    berjalan tanpa alas kaki apalagi transportasi apapun. Durasi perjalanan
    mereka tempus +/- 3-4 hari. Bahkan, mereka selama berminggu-minggu akan
    balik lagi ke rumah mereka.
  20. Rata-rata kepala rumah tangga mereka sudah fasih berbahasa Indonesia.
    Ini akibat pengaruh pengunjung dari luar yang berbahasa Indonesia selama
    menginap sehingga mereka terbiasa mendengar dan lalu lancar. Bahasa
    tradisional mereka adalah bahasa Sunda kasar.
  21. Baik laki-laki maupun perempuan untuk seluruh usia tidak menggunakan
    celana dalam.
  22. Pemukiman mereka tidak akan berpindah-pindah, kecuali dalam kondisi
    darurat misalnya kebakaran. Terakhir warga Cibeo baru pertama kali pindah
    dari lokasi yang tidak jauh dari lokasi saat ini.
  23. Pendidikan sekolah formal tidak ada di sana. Bagaimana ada? Sementara
    memang tidak diperbolehkan didirikan sekolah disana. Bisa dibuktikan kalau
    mereka memang semuanya adalah buta huruf dan tidak bisa membaca. Mereka
    hanya mengenal uang dan pandai berhitung. Andaipun kita
    berniat ingin mengajari mereka untuk berkumpul, sangat sulit untuk bisa
    merubah peraturan mereka untuk mau.



3 Responses to “Suku Baduy”  

  1. 1 fajjar

    Jadi tertarik juga mau mengangkat suku dayak…hiks2…dari golongan Melayu TUa

  2. makasih infonya…

  3. Maaf, setahu saya, tidak/belum ada nama kabupaten Rangkasbitung, yang ada Kabupaten LEBAK, Rangkasbitung itupun masuk didalam kabupaten Lebak, mohon koreksi jika saya keliru


Leave a Reply