Antara OMEK, Halaqoh’ dan PKS

12Mar09

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, saya ini anggota HMI Komisariat FMIPA Sepuluh Nopember Surabaya, tergabung sejak September 2007, tercebur disana setelah melewati kebimbangan diantara dua pilihan, KAMMI atau HMI. Dua-duanya memiliki daya tarik tersendiri, secara ideology saya cenderung HMI, namun disisi lain saya terlanjur dekat dengan keseharian KAMMI. 2,5 tahun berada di ITS bukan waktu yang tidak lama untuk tidak mengenal tingkah polah per-politikan dan Ahwal Wa As-Syahsiah didalamnya, saya orang sangat suka dengan hal-hal seperti itu, menilai dari sudut pandang sendiri segala remeh temeh dibalik tiap peristiwa.

Kenapa OMEK lebih di-TABU-kan daripada PARTAI….???

Sampai detik ini saya masih aktif dalam program mentoring lanjutan, kami biasa sebut Liqo’. Satu hal yang sangat jarang dilakoni orang-orang HMI, bahkan basecamp saya di kontrakan putri KAMMI. Saya senang melakoni rutinitas ini, sampai suatu saat saya dibuat berpikir seribu kali gara-gara diundang dalam salah satu Ta’limat partai yang bertempat di Asrama Haji Sukolilo. Tahulah partai apa, PKS tentunya, satu-satunya partai yang eksis dikampus tercinta saya ini. Kenapa saya bilang eksis??, Tentunya Anda yang mahasiswa ITS sudah terbiasa dengan tempelan stiker partai ini di binder, laptop, helm, sepeda motor, gantungan kunci maupun HP, bahkan tak jarang mahasiswa mengenakan kaos berlambang PKS ( tentu saja dibalik jilbab). Apa itu salah?? Sama sekali tidak kawan. Hanya saja hati ini gag sreg dengan euphoria seperti itu. Bahkan kawan dekat saya juga simpatisan partai ini, dan masih sering bilang,” Nomor 8 Phi…!! “. Dia bilang, kader PKS itu bersih, tak ada yang terlibat dalam korupsi, dan satu hal lagi mereka selalu Sholat Berjama’ah (satu hal yang sangat saya cintai), juga minimal hafal 1 juz. Dengan background seperti itu tentu saya tergelitik, siapa juga yang mau pilih partai kalau kadernya biang dosa. Atas anjuran seorang kawan, sebelum menilai langsung ada baiknya lihat situs ini : www.pkswatch.blogspot.com . Ahh..setelah saya lihat ternyata sama saja, blog bikinan kader.

Tentang OMEK di kampus. Bukannya takut salah menilai, hanya bingung memulai dari mana. Kejadiannya saat perkuliahan awal semester 6 ini berlangsung, sambil menunggu dosen, saya dan seorang kawan tiba-tiba terlibat dalam percakapan ini. Waktu itu kawan saya melihat pin HMI di tas, lalu dia memastikan apa saya HMI. Lalu dia bersikap agak aneh, lebih tepatnya kurang suka (bukan niat ber-su’udzzon) dengan keterbukaan saya. Lalu terjadilah percakapan seperti ini: T: inisial untuk teman, dan S: saya

T: ” Kok atribut OMEK dibawa ke kampus sih? Bukan tempatnya kali…”

S: ” Emang kenapa? Biasa aja..”

T: ” Menurutku itu yang membuat kesenjangan diantara Mahasiswa kita”

S: ” Kesenjangan seperti apa? Apa OMEK membuat kita terkotak-kotak?”

T: “Begitulah adanya”. Kemudian diam dan memilih menghentikan pembicaraan tentang ini.

Sungguh tak beralasan!! Bertolak belakang dengan posisi dia di HIMA. Namun, saya maklumi kalau dia bicara seperti itu,berkaca pada konflik internal di HIMASTA 3-4 tahun lalu, dimana kader-kader OMEK ditendang dari himpunan.

Yang jadi pertanyaan saya, apa yang salah dari OMEK dan apa yang benar dari Partai?? Kenapa kondisinya berbalik arah seperti ini? Mahasiswa yang lebih tepat untuk bersikap independent, kenapa memalingkan muka jika pembahasan OMEK dimulai, dan dengan semangatnya yang berkobar malah menjadi simpatisan partai…

Maaf, ini hanya postingan kurang mutu, disusun karena merasa jengah dengan beberapa kejanggalan disekitar saya. Lain kali saya akan mencoba menghubungkan keberadaan Liqo’ dan Islam kontemporer yang dikaitkan dengan PKS. In Progress……………………………..



11 Responses to “Antara OMEK, Halaqoh’ dan PKS”

  1. Assalamualaykum. Ternyata punya pengalaman yg hampir sama dengan saya :)…Saranku, jalani aja dengan sabar dan terus cari tahu kebenaran itu dengan hati yang jujur dan ikhlas. Pinginnya cih mo ceritain pengalamanku jg di sini, tapi ntr malah jadi postingan bukan komentar :).

  2. gt ya mas Rhosyied, emailain aja kalo gitu.. bisa sharing2 masalah satu ini kalo gitu..
    tengkyu..

  3. Gini aja mbak…yang terpenting bagi kita itu beribadah kepada Allah. Kita sibukkan diri dengan menuntut Ilmu syar’i yang mengantarkan kita bisa meraih surga yang menjadi tujuan setian insap. Kita mulai belajar dari bagaimana mengenal Allah, memahami makna syahadatain, mempelajari aqidah yang benar, tauhid yang shahih, ittiba’ kepada Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dalam setiap perbuatan, perkataan, muamalh, akhlak.

    Terkadang kita disibukkan dengan OMEK, BEM, atau organisasi yang lain sehingga kita tidak menyempatkan waktu dengan hal-hal yang diwajibkan oleh Allah semisal bagaimana Aqidah yang benar, Ibadah yang sesuai sunnah, dan juga bagaimana hakikat kesyirikan, kebid’ahan yang semuanya itu bisa berujung kepada penyesalan di hari dimana tidak berguna penyesalan itu.

    Ada baiknya mbak sibukkan dengan yang demikian..insyaAllah lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan kelak insyaAllah bermanfaat bagi orang lain jika kita sudah siap untuk mendakwahkannya.

    Barokallahufik

  4. @maramis a.k.a iwan :)
    Iya wan, memang kamu ada benarnya. Seringkali orang yang disibukkan oleh kehidupan organisasi kadang lupa sama hal hal kayak memperbaiki ibadah (mahdhah) (maklum pernah jg ngalami,,, :D) Tapi menyibukkan diri dalam organisasi juga ibadah menurut Saya. Jika tidak ada bagian dari kita yang belajar bagaimana mengatur umat, maka mungkin kita akan diatur oleh mereka yang tidak berilmu.

    @lutfiana
    Saya koq ga terlalu ngerasa aroma KAMMI ato HMI ya?? apa Saya yang kurang gaul?? :D (padahal mantan Ketua KAMMI duduknya di samping Saya di lab lho,, :D) Yaaahhh… whatever apa kata orang ttg OMEK, Partai, Halaqoh, Liqo’… Yang penting menurut Saya adalah diri kita masing-masing memiliki prinsip yang kita pegang teguh,,, which is Al Quran dan Hadits tentunya…

    Berislam yang benar, tidak ikut-ikutan dan tidak mudah terbawa arus ideologi… Bismillah…

  5. @ Maramis Setyawan:
    sepakat dengan Anda sajalah Bung, toh saya merasa telah menemukan tempat ngaji yang bener (menurut saya).

    @Alfiyan:
    terima kasih sarannya Bung fiyan

  6. 6 Zea

    Yapz….kdg2 krn saking nge-fans-nya sm sbuah partai…qt sampe g nyadar btp mjg ukhuwah atas nama ISLAM lbih pnting….Partai boleh beda (tp tetep liat bgs nggaknya)….yg penting hati tetap bermuara pada satu Ilah…Allohu Rabbana….

  7. okelah bun, saya disini memposisikan diri sebagai tokoh ‘T’ yang nggak ngeh dengan namanya OMEK yang masuk kampus. Kenapa nggak ngeh? jujur, aku gak suka yang namanya agama jadi kover ato bungkus makanan, partai A jual roti merek Islam rasa fundamental, partai B juga jual roti Islam rasa moderat, ngga usa muna’ yang namanya OMEK adalah afilliasi dari partai. itulah kenapa lebih ditabukan, mahasiswa seharusnya mastermind esensial dari masyarakat Indonesia yang jamak, yang Aceh sampai Papua, yang Islam sampai animisme-dinamisme, akan tetapi sejarah mencatat, masyarakat yang dicintai sampai kedalam tulang oleh mahasiswa sejati telah ditipu oleh politik kasta tinggi, PARTAI! setiap rejim yang terlahir dari gerbong2 partai hanya mementingkan golongannya sendiri, menyntap tanpa canggung melalui kantong2 kebijakan dan kekuasaan, dan mahasiswa mau ikut mereka menjadi kanibal? itulah kenapa juga OMEK lebih ditabukan. bahkan undang-undangkan melalui peraturan DIKTI no.22 tahun 2002 (larangan-logo-lambang-atribut-kepentingan partai, ormas, organisasi mahasiswa ekstra, etc)>> seharusnya ada penegak dari peraturan ini

    oke, pada dasarnya semua OMEK itu baik, saya suka dengan originalitas ide dan geliatnya, yang lagi2 bikin nggak ngeh adalah orang2nya, mahasiswa melanggar hukum? yaps.. bila mereka (OMEK) membawa-bawa kepentingannya masuk ke dalam kampus! lha kalau mahasiswa sudah pintar melanggar jangan salahkan negara ini nggak sembuh2. Selama sesuai aturan main (nggak masuk kampus) aku menyaluti perjuanganmu bun. salamoalekom ;p

  8. 8 gundul

    OMEK yo,,,,organisasi g penting iku a!!!!udah tau larangan resmi dari DIKTI bahwa OMEK dilarang msk kampus, msh aja ngotot,,,sadarlah wahai “KAWAN2″ domba2 tersesat,,katanya agen of change,,,tapi kok memangkas kebebasan berpikir,,iso mu mek “ndoktrin” rek

  9. 9 raden mas netral

    klo omek ya mungkin dong masuk kampus. lawong udah ada ketentuan dikti. itu yang membikin knapa omek itu ditabukan. klo partai sih udah ada tempatnya n ranahnya sesuai democrazy. kalopun parte masuk kampus juga g boleh bgt. lawong pendidikan koq jadi ajang perpolitikan. ntar jadinya negara terpolitik tidak negara terdidik dong. jadi asal tau aja c mbak, tempat politik baik omek atao partai bukan di kampus. kalopun parte tidak tabu ya memang mereka berada dalam ranah yang benar, la kalo omek yang di dalam kampus????? duh amit-amit dah mbak…. jngan mpe pedirian mbak sebagai agen of change dicemari oleh hal-hal berbau politik yang udah tersetting untuk kepentingan tertentu kalo tidak mau disebut kepentingan golongan aja

  10. 10 jamal muttaqin

    kurang lebih saya sepakat dengan mbak upik.

    saya juga tidak habis pikir kok kayanya susah banget buat simpatisan PKS mengerem identitas mereka. secara tidak sadar, besar kemungkinan malah banyak yang tidak respect atas banyaknya identitas partai di kampus.

    untuk masalah OMEK, saya rasa tidak ada yang salah. OMEK juga sama dengan organisasi lainnya. OMEK itu khan punya mahasiswa, kenapa dilarang di kampus??? dugaan OMEK adalah kepanjangan tangan dari parpol adalah tak beralasan. oke, katakan saja benar… lalu apa tidak mungkin UKM atau ORMAWA juga ditunggangin parpol??? sangat mungkin!!! BEM-ITS??? who knows??? jadi, buat apa kita mempermasalahkan adanya identitas OMEK?? ke-OMEK-an si A sama dengan ke-HMJ-an si B. sama juga dengan ke-UKM-an si C. sama juga dengan ke-BEM-an mbak upik. apa yang salah???

    tapi kalo emang belom bisa diterima am tman2 mnurut saya kita juga harus mencoba menahan diri, mbak. bukan besarnya organisasi tujuan kita. tapi tersampaikannya pesan2 positif yang kita imani agar sampai ke teman2 yang telah kita pelajari di OMEK.

    yang terakhir, gak usah fanatik ama organisasi2 bikinan manusia. biasa saja. fanatik hanyalah untuk Islam saja. Untuk Allah swt.

    salam persaudaraan…

  11. baru nemu postingan ini . .
    hampir sama kisahnyaa .heheh
    awalnya dekat dengan hmi tapi saya lebih nyaman sama kammi meskipun ada beberapa hal yang sama seperti cerita di atas :))
    apapun omeknya yang penting dakwah tetep jalan deh :)
    hamasah! yakusa!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: