Buku, Indonesia : The Bugis
Buku, Indonesia : The Bugis
Manusia Bugis
Tertarik membahas suku Bugis karena salah satu obsesi saya adalah menjadi ahli antropologi (lah, kok masuk Statistika..??? ), juga bisa ber-backpacking di Sulawesi, Makassar khususnya. Penasaran dengan suku satu ini, saya cari-cari banyak referensi, sampai akhirnya saya menemukan buku bagus di Perpustakaan ITS tentang bibliografi suku Bugis. Judulnya “Manusia Bugis”, diadaptasi dari salah satu seri buku ” The Bugis ” karangan Christian Pelras, diterbitkan oleh Blackwell Publisher ( Oxford University, UK : Cambridge Unversity, USA ). Yang paling menarik bagi saya dari suku ini adalah masalah gender dan adanya “Dinasti Kalla“
Sekilas Bugis
Orang Bugis adalah salah satu dari berbagai suku di Asia Tenggara dengan populasi lebih dari 4 juta orang ( sensus tahun 2000 ), tersebar di seluruh Indonesia. Mayoritas mereka mendiami wilayah Barat Daya Pulau Sulawesi. Termasuk dalam rumpun keluarga besar Austronesia. Perlu dibedakan antara suku Bugis dan orang Makassar, sejatinya mereka itu beda. Sejarah berkata, perahu pinisi mereka telah melanglang buana sampai ke seluruh belahan dunia,termasuk Madagaskar. Namun dalam kenyataannya, di masa lampau ternyata Bugis adalah salah satu suku yang paling tidak dikenal di Nusantara. Ironisnya dari sedikit pengetahuan yang beredar, banyak hal dari sejarah mereka yang ternyata keliru. Mata pencaharian utama suku ini sebenarnya adalah pertanian atau agraria, sangat sedikit aktivitas maritime pada mereka. Adapun perahu pinisi yang dianggap telah berusia ratusan tahun sebenarnya baru ditemukan pada abad-19 atau sekitar decade 1930-an. Tentang Bajak Laut Bugis ( Bogi ) itu juga sama sekali keliru dan tidak berdasar.
Tentang La Galigo
La Galigo sendiri adalah salah satu epic terpanjang, lebih panjang dari kisah Mahabaratha maupun Babad Tanah Jawi. Bercerita tentang ratusan keturunan dewa yang hidup pada suatu jaman selama enam generasi berturut-turut pada kerajaan di Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Ditulis dalam bahasa Bugis Kuno dan sampai abad-20 harus mengadakan ritual khusus sebelum membacanya. Sumber bacaan yang dipercaya paling autentik yang menggambarkan siklus hidup masyarakat Bugis. Ilmuwan pertama yang menerbitkan naskah tersebut adalah R.A Kern dari Belanda yang naskah aslinya sekarang disimpan di Marthes, Makassar. Terdiri dari 113 naskah, 31500 halaman. Namun sudah diringkas sedemikian rupa sehingga berkurang menjadi 1356 halaman saja. Sudah ada versi Indonesianya juga.
Sistem Kekerabatan & Perkawinan
Bugis menganut system patron klien – system kelompok kesetiakawanan antara pemimpin dan pengikutnya – yang bersifat menyeluruh. Salah satu system hierarki yang sangat kaku dan rumit. Namun, mereka mempunyai mobilitas yang sangat tinggi, buktinya dimana kita berada tak sulit berjumpa dengan manusia Bugis. Mereka terkenal berkarakter keras dan sangat menjunjung tinggi kehormatan, pekerja keras demi kehormatan nama keluarga.
Sedangkan untuk kekerabatan keluarga mereka menganut system cognatic atau bilateral , seseorang ditelusuri melalui garis keturunan ayah dan juga ibu. Panggilan yang biasa untuk kerabat mereka adalah kaka’(saudara yang lebih tua) dan Anri’(saudara yang lebih muda). Amure’(paman) dan Inure’(bibi). Masih banyak lagi sebutan dalam system kekerabatan mereka, terlalu banyak jika disebutkan semuanya.
Perkawinan (Siala’) berarti saling mengambil antara satu dengan yang lain. Biasanya perkawinan berlangsung antarkeluarga dekat atau antarkelompok petronasi yang sama, dimaksudkan untuk pemahaman yang lebih mudah antar keluarga. Dalam La Galigo diceritakan perkawinan dengan sepupu satu kali (istilah Jawa: misanan) dianggap terlalu panas (Siala Marola) hanya terjadi di keluarga bangsawan, supaya Darah Putih mereka tetap terpelihara.Yang terpenting bagi mereka adalah kesesuaian derajat antara pihak laki-laki dan perempuan. Dalam proses perkawinan, pihak laki-laki harus memberikan mas kawin kepada perempuan (sama halnya adat Jawa kebanyakan) yang terdiri dari dua bagian, yaitu Sompa (biasanya dalam nominal uang) dan Dui’ Menre’ (mahar permintaan dari pihak perempuan).
Gender
Suku Bugis adalah salah satu suku di Nusantara yang menjunjung tinggi hak-hak Perempuan. Inilah yang membuat saya sangat tertarik dengan suku ini. Sejak zaman dahulu, perempuan sudah banyak berkecimpung di bidang politik setempat. Yang membedakan peran mereka hanyalah kecenderungan social dalam perilaku individu (Hamzah, “Femmes Bugis”).
Perempuan Bugis telah berani tampil di muka umum, mereka aktif dalam semua bidang kehidupan, menjadi mitra pria dalam diskusi urusan public, tak jarang pula mereka menduduki tahta tertinggi di kerajaan (Crawfurd,History:74). Misalnya Raja Lipukasi pada tahun 1814 dipimpin oleh seorang perempuan. Sampai perang kemerdekaan pun, perempuan tetap berperan aktif dalam medan laga.
Pepatah Bugis mengatakan,”Wilayah perempuan adalah sekitar rumah sedangkan ruang gerak laki-laki menjulang hingga ke langit”. Jangan disalah artikan, biasanya mereka menggunakan pepatah ini hanya untuk analogi dengan kewajiban mencari nafkah keluarga.Artinya, laki-laki lah yang berkewajiban menafkahi keluarga, sekuat tenaga.
Ada lagi yang unik dalam system gender mereka, karena teryata di suku Bugis ada istilah Gender Ketiga ( Calaba’i : perempuan palsu, laki-laki menyerupai wanita ) dan Gender Keempat ( Calala’i : pria palsu, wanita menyerupai laki-laki). Biasanya ditandai dalam hal berpakaian, bukan hanya waktu-waktu tertentu, tapi seumur hidup.
Dinasti Kalla
Hadji Kalla merupakan salah satu usahawan kontemporer Bugis, dalam buku Apa dan Siapa: Sejumlah Orang Indonesia,1985-1986, tercatat bahwa dari 213 pengusaha sukses Indonesia, 3% diantaranya adalah orang Bugis. Prosentase yang terlihat sedikit namun bila dibandingkan dengan populasi Bugis, sudah luar biasa banyaknya. Hadji Kalla salah satunya.
Hadji Kalla adalah seorang tokoh NU ( Nahdhotul Ulama’) di Sulawesi Selatan. Perusahaan yang berhasil beliau dirikan adalah pabrik tekstil di Bone, Naamloze Vennotschap Hadji Kalla (perdagangan hasil bumi), PT.Bumi Karsa (Persh.Konstruksi),dll. Lalu dari sekian banyak perusahaan, sebagian besar diwariskan ke putranya, Jusuf. Setelah lulus dari FE Universitas Hasanuddin, beliau langsung menggarap PT.Bumi Karsa dan menjadi Dirut pada tahun 1961 – 2001. Di tangan Jusuf Kalla, GHK (Grup Hadji Kalla) berhasil mendirikan PT. Bumi Sarana Utama (dealer aspal curah) dan PT. Bukaka (persh. konstruksi) yang tercatat pernah menang tender penggarapan bandara Soekarno – Hatta. Kalau disebutkan satu persatu anak perusahaan GHK, walhasil tak akan cukup artikel ini menjabarkannya. Yang jelas, di tahun 2004 tercatat 13 perusahaan besar di Indonesia adalah milik GHK. Sekarang, kita semua tahu, Jusuf Kalla telah menjadi Wapres RI, bilyuner Indonesia, dan mungkin di PEMILU 2009 nanti bakal menjadi Calon kuat Presiden RI.
Itulah sepintas Bugis, satu dari sekian ribu suku di Nusantara, salah satu wakil mereka telah menjadi orang nomor dua Indonesia, to-acca, to-panrita dan to-sugi’.
Next : suku Baduy
Filed under: suku | 4 Comments
mantap, mau nikah sama orang bugis yakz? hehehehehehe
btw tentang bugis banyak versi, tapi sy menyakini apa yg tertulis dalam epic lagaligo


Saya beberapa kali nyinggung ttg Lagaligo di postinganku…
Lagaligo itu berasal dari Tanah Luwu lho
ntar kapan2 ktia diskusi ttg Bugis lebih banyak lagi
jadi ingat, pernah waktu TK sering maen2 ke dealer NV hadji Kalla di tempatku… keluarganya Hadji Kalla juga
mereka makan pake sendok dan garpu, saya pake tangan.. huahahahaha *akhirnya diketawain ortuku di rumah
*
#Mas Arul :
Saya? mau nikah sama orang Bugis?? Gak Ahh..
kejauhan, lagian Mbak saya sudah dapet orang Bugis..
Ya maaf juga sih kalo kurang lengkap, saya ni susah banget nyari edisi asli La Galigo, kira2 dimana yah??? Mas Arul ada??
Saya ini cuma penggemar tulisan berbau suku-suku gitu aja, jadi jangan heran kalo lain kali ada suku lain yang termuat di blog… tengkyu Kak arul…
wow… keren referensinya.
Wah saya yang lahir gede dan bersekolah di ranah Bugis kalah sama penulis nih
.
Salut sama penulisnya. Btw, ada referensi gak tentang tempat membeli buku the Bugis?